
MEMAHAMI pendidikan adalah memahami tentang manusia dengan segala potensi yang dimilikinya. Bahkan, ukuran baik tidaknya tingkah laku manusia diukur dari latar belakang pendidikannya.
Inilah ukuran eksistensi manusia saat ini, mulai dari upaya mencari kerja sampai melamar wanita maka pertanyaan yang sering muncul adalah tentang pendidikannya. Oleh karena itu, boleh jadi seseorang telah mendewakan pendidikan untuk mendapat cita-cita dan ambisi yang diharapkan.
Namun, apabila proses pendidikan masih mengorientasikan manusia yang mendiaminya pada kecerdasan kognitif belaka dan nilai angka yang utama maka tidak heran apabila kita menemukan lulusan yang siap kerja tapi tidak bisa berkarya. Siap dipekerjakan tapi tidak mau mempekerjakan dan siap mengejar prestasi tapi tidak bisa beradaptasi.
Pendidikan karakter yang diharapkan sebagai jurus ampuh untuk menangani ketimpangan seperti ini akhirnya kesulitan untuk memainkan peran dan fungsinya. Bagaimana pendidikan karakter bisa terlaksana apabila sistem pendidikan sendiri ternyata harus diberikan pendidikan karakter terlebih dahulu.
Oleh karena itu, sistem pendidikan sejatinya harus cocok dengan program pendidikan karakter itu sendiri. Pertama, koneksitas sistem pendidikan dengan pendidikan karakter. Munculnya gagasan pendidikan karakter ini sebagai respons dari gagalnya proses pendidikan yang menghasilkan manusia-manusia yang bermoral sesuai dengan kepribadian bangsa dan agama.
Lembaga pendidikan hanya berhasil mencetak manusia yang hafal akan pelajaran, pintar menjawab soal dan itu dilakukan dengan kecurangan sehingga yang didapat hanya nilai-nilai akademik tanpa nilai moral-etik.
Kedua, konsistensi pendidikan karakter. Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk kepribadian siswa yang ideal seperti menjadi manusia yang berkarakter baik, beriman atau bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, jujur, tanggung jawab, dan disiplin.
Oleh karena itu dalam pelaksanaan di lapangan, maka yang harus menjadi titik awal pelaksanaan pendidikan karakter adalah tujuan pendidikan karakter itu sendiri. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi sarana yang mampu membentuk manusia berkarakter dan tentunya semua itu dapat terwujud bila pendidikan itu sendiri berkarakter.
Epi Suhaepi
Alumnus FIS Universitas Negeri Yogyakarta